Siswa Ditolak Daftar CKG di Puskesmas Jaktim, Pihak Sekolah Diminta Atur Jadwal

Jakarta – Sejumlah siswa di Jakarta Timur mengalami kendala saat ingin mendaftar Calon Kepala Gugus (CKG) di puskesmas setempat. Mereka mendapat penolakan karena dianggap tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pihak puskesmas menegaskan bahwa pendaftaran harus dilakukan sesuai waktu yang telah diatur oleh sekolah, bukan datang secara individu tanpa koordinasi.

Kejadian ini memicu pertanyaan dari orang tua siswa yang merasa kesulitan karena keterbatasan waktu dan fleksibilitas dalam mengurus administrasi anak-anak mereka. Mengapa siswa tidak bisa mendaftar secara mandiri? Apakah ada regulasi ketat yang mengatur proses ini?


1. Puskesmas: “Ada Waktunya di Sekolah”

Menurut keterangan pihak puskesmas di Jakarta Timur, prosedur pendaftaran Calon Kepala Gugus (CKG) tidak bisa dilakukan secara perorangan tanpa mengikuti mekanisme yang sudah ada.

“Kami tidak menolak siswa, hanya saja mereka harus mengikuti alur yang telah disepakati. Biasanya, sekolah sudah memiliki jadwal khusus untuk pendaftaran CKG, sehingga puskesmas bisa mengatur pelayanan dengan lebih tertib,” ujar seorang tenaga kesehatan di puskesmas setempat.

Lebih lanjut, pihak puskesmas menegaskan bahwa sistem ini diterapkan agar pelayanan tetap efisien dan tidak mengganggu pasien umum. Jika siswa datang secara individu tanpa ada koordinasi dari sekolah, proses administrasi menjadi lebih sulit dan berpotensi menimbulkan antrean yang panjang.


2. Keluhan Orang Tua dan Siswa

Namun, beberapa orang tua merasa sistem ini menyulitkan. Mereka beranggapan bahwa pendaftaran seharusnya bisa dilakukan kapan saja selama puskesmas beroperasi, tanpa harus menunggu jadwal dari sekolah.

“Saya kerja, jadi sulit kalau harus menyesuaikan jadwal dari sekolah. Seharusnya bisa lebih fleksibel, anak-anak juga bisa langsung daftar sendiri,” ujar seorang wali murid yang anaknya mengalami kendala dalam pendaftaran.

Selain itu, beberapa siswa mengaku tidak mendapatkan informasi yang jelas dari pihak sekolah, sehingga mereka berinisiatif untuk mendaftar sendiri ke puskesmas.

“Saya kira bisa langsung daftar sendiri, soalnya teman saya juga ada yang sudah daftar. Tapi ternyata ditolak, katanya harus ikut jadwal dari sekolah,” kata salah satu siswa.


3. Pihak Sekolah Diminta Beri Sosialisasi yang Jelas

Menanggapi situasi ini, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Jakarta Timur menekankan pentingnya komunikasi yang lebih baik antara sekolah, puskesmas, dan orang tua siswa.

“Kami memahami bahwa ada kendala teknis dalam pelaksanaan pendaftaran CKG. Oleh karena itu, pihak sekolah perlu memberikan informasi yang lebih jelas kepada siswa dan orang tua agar tidak terjadi kesalahpahaman,” ujar seorang pejabat dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Selain itu, pihaknya juga mempertimbangkan opsi untuk menjadwalkan pendaftaran CKG di luar jam sekolah atau membuka layanan khusus bagi siswa yang tidak bisa hadir pada jadwal yang telah ditentukan.


4. Solusi agar Proses Pendaftaran CKG Lebih Efisien

Agar kasus serupa tidak terjadi lagi, beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh sekolah dan puskesmas antara lain:

Sekolah mengumumkan jadwal pendaftaran CKG lebih awal, agar siswa dan orang tua bisa menyesuaikan waktu.
Puskesmas menyediakan sistem antrean khusus bagi siswa agar tidak bercampur dengan pasien umum.
Membuka layanan online atau pendaftaran melalui sekolah untuk mempermudah proses administratif.
Koordinasi lebih erat antara puskesmas dan sekolah, sehingga ada fleksibilitas bagi siswa yang memiliki kendala waktu.

Dengan adanya koordinasi yang lebih baik, diharapkan proses pendaftaran CKG dapat berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas sekolah maupun pelayanan kesehatan di puskesmas.


Kesimpulan

Kasus penolakan siswa saat mendaftar Calon Kepala Gugus (CKG) di puskesmas Jakarta Timur menunjukkan bahwa masih ada tantangan dalam koordinasi antara sekolah, puskesmas, dan orang tua siswa. Meski puskesmas memiliki alasan untuk mengatur jadwal demi efisiensi layanan, orang tua dan siswa juga mengharapkan fleksibilitas yang lebih besar.

Ke depannya, diperlukan komunikasi yang lebih baik serta solusi alternatif seperti layanan online atau penjadwalan lebih fleksibel, agar setiap pihak dapat menjalankan tugasnya tanpa kendala. Dengan begitu, pendaftaran CKG bisa lebih mudah, tertib, dan tidak menyulitkan siapa pun.