Kontroversi Fasilitas Mewah di Penjara ICC untuk Rodrigo Duterte

Den Haag – Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa fasilitas penjara tempat mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte ditahan memiliki standar yang jauh lebih mewah dibandingkan penjara konvensional. Kritikus mempertanyakan apakah seorang terdakwa kejahatan terhadap kemanusiaan seperti Duterte layak mendapatkan perlakuan istimewa, sementara pendukungnya menilai hal ini sebagai bagian dari standar hak asasi manusia yang harus dijunjung tinggi.

Penjara ICC: Lebih Mirip Hotel Kelas Atas?

Penjara di Den Haag yang menampung Duterte bukanlah penjara biasa. Laporan dari berbagai media menyebutkan bahwa fasilitas tersebut memiliki kamar yang luas, tempat tidur berkualitas tinggi, televisi, ruang olahraga, hingga akses terhadap pendidikan dan kegiatan rekreasi.

Seorang mantan narapidana ICC yang berbicara kepada media menyebut bahwa lingkungan dalam penjara ini lebih menyerupai pusat rehabilitasi dibandingkan tempat hukuman. Setiap tahanan juga mendapatkan makanan berkualitas, perawatan kesehatan yang prima, dan kebebasan untuk berinteraksi dengan sesama tahanan dalam batasan tertentu.

“Kami bukan penjara penyiksaan, tetapi tempat di mana hukum ditegakkan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia,” ujar salah satu pejabat ICC kepada The Guardian.

Kenapa Penjara ICC Dibuat ‘Mewah’?

Ada beberapa alasan mengapa fasilitas penjara ICC dirancang dengan standar yang lebih baik dibandingkan kebanyakan penjara di negara-negara lain:

  1. Menyesuaikan dengan Prinsip Hak Asasi Manusia
    ICC beroperasi di bawah prinsip non-degradasi terhadap tahanan. Artinya, meskipun mereka dituduh melakukan kejahatan berat seperti genosida atau kejahatan terhadap kemanusiaan, mereka tetap harus diperlakukan secara manusiawi.
  2. Mencegah Penyiksaan dan Perlakuan Tidak Adil
    Banyak narapidana ICC sebelumnya berasal dari negara-negara yang terkenal dengan sistem hukum yang keras dan penuh penyiksaan. ICC ingin memastikan bahwa mereka tidak mengalami perlakuan buruk, yang justru bisa menjadi pelanggaran hak asasi manusia.
  3. Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik Tahanan
    ICC percaya bahwa memberikan lingkungan yang kondusif dapat membantu tahanan menghadapi persidangan dengan lebih baik dan memungkinkan mereka menjalani hukuman tanpa risiko kesehatan yang membahayakan.

Reaksi dari Publik dan Pemerintah Filipina

Laporan tentang fasilitas mewah ini memicu reaksi keras, terutama dari warga Filipina yang menjadi korban kebijakan Duterte saat menjabat sebagai presiden. Beberapa keluarga korban perang melawan narkoba Duterte menyebut bahwa perlakuan istimewa ini tidak adil, mengingat ribuan orang tewas secara brutal tanpa melalui proses hukum yang layak.

“Ayah saya ditembak mati tanpa pengadilan, sementara Duterte diperlakukan seperti tamu kehormatan di penjara ICC,” ujar seorang anggota keluarga korban dalam wawancara dengan BBC News.

Di sisi lain, pemerintah Filipina, yang saat ini dipimpin oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr., belum memberikan respons resmi terhadap laporan ini. Namun, beberapa sekutu Duterte mengkritik ICC dan menyebut bahwa penahanan mantan presiden itu tidak sah serta bermuatan politik.

“Duterte bukan kriminal. Dia adalah pemimpin yang melindungi negaranya dari kejahatan narkoba. ICC tidak punya hak untuk mengadilinya,” ujar mantan juru bicara Duterte, Salvador Panelo.

Bagaimana Proses Hukum Duterte Selanjutnya?

Saat ini, Rodrigo Duterte masih dalam proses persidangan di ICC atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait kampanye perang terhadap narkoba yang menyebabkan lebih dari 6.000 kematian menurut catatan resmi, meskipun laporan independen menyebut angka korban jauh lebih tinggi.

Jika terbukti bersalah, Duterte bisa menghadapi hukuman penjara seumur hidup di fasilitas ICC. Namun, proses hukum di ICC sering kali berlangsung bertahun-tahun sebelum putusan akhir dijatuhkan.

Sementara itu, masyarakat internasional terus menekan ICC agar memastikan bahwa penahanan Duterte tidak hanya sebatas fasilitas mewah, tetapi juga mempertimbangkan keadilan bagi korban-korban kebijakan brutalnya di Filipina.

Kesimpulan

Penjara ICC yang lebih menyerupai pusat rehabilitasi dibandingkan penjara konvensional memicu pro dan kontra. Di satu sisi, fasilitas ini mencerminkan standar hak asasi manusia yang tinggi, tetapi di sisi lain, banyak yang merasa bahwa seorang terdakwa kejahatan berat seperti Duterte seharusnya tidak menikmati kemewahan seperti itu.

Keputusan ICC dalam mengelola tahanannya kini menjadi sorotan global, terutama dalam kasus yang melibatkan pemimpin kontroversial seperti Duterte. Seiring berjalannya proses hukum, publik masih menunggu apakah keadilan benar-benar akan ditegakkan atau justru menjadi pertunjukan politik internasional semata.