Washington, D.C. – Dalam pidatonya di depan Kongres Amerika Serikat, mantan Presiden Donald Trump kembali menggemparkan publik dengan pernyataan kontroversial. Ia menegaskan keinginannya untuk menguasai Greenland dan merebut kendali atas Terusan Panama, dua wilayah yang ia sebut sebagai “aset strategis” bagi masa depan Amerika Serikat.
Trump: “Greenland adalah Investasi Besar”
Trump kembali mengangkat wacana pembelian Greenland, pulau terbesar di dunia yang merupakan wilayah otonom Denmark. Ini bukan kali pertama ia mengusulkan ide tersebut—pada masa kepresidenannya di tahun 2019, Trump sempat membuat heboh dengan mengutarakan niatnya membeli Greenland, yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Denmark.
Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk kepentingan ekonomi dan pertahanan. “Greenland memiliki sumber daya yang sangat besar, termasuk mineral langka yang bisa menjamin dominasi Amerika dalam industri teknologi,” ujarnya. “Jika Denmark tidak bisa mengelola Greenland dengan baik, sudah seharusnya kita yang mengambil alih.”
Pernyataan ini langsung menuai reaksi dari anggota Kongres, termasuk dari kubu Demokrat yang menilai ambisi Trump sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal” dan berpotensi memperburuk hubungan diplomatik dengan sekutu Eropa.
Terusan Panama: Strategi Geopolitik Trump
Tak hanya soal Greenland, Trump juga mengungkapkan keinginannya untuk merebut kendali atas Terusan Panama, jalur perairan strategis yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik. Menurutnya, Terusan Panama, yang sebelumnya sempat berada di bawah kendali AS hingga 1999 sebelum diserahkan ke Panama, seharusnya dikendalikan kembali oleh Amerika demi kepentingan nasional.
“Kita tidak bisa membiarkan aset sepenting ini dikelola oleh Panama. Ini jalur perdagangan dunia, dan Amerika harus kembali berperan dalam mengawasi dan mengontrolnya,” kata Trump dengan nada tegas.
Pernyataan ini memicu kontroversi karena dianggap meremehkan kedaulatan Panama dan bisa berujung pada ketegangan diplomatik. Sejumlah analis menilai bahwa usulan Trump bisa memicu reaksi keras dari negara-negara Amerika Latin, yang selama ini menolak campur tangan AS dalam urusan domestik mereka.
Reaksi Internasional
Denmark dan Panama langsung bereaksi terhadap pernyataan Trump. Pemerintah Denmark menegaskan kembali bahwa Greenland bukan untuk dijual dan tetap menjadi bagian integral dari kerajaan mereka. Sementara itu, Presiden Panama, Laurentino Cortizo, menolak keras gagasan bahwa Terusan Panama bisa diambil alih oleh Amerika Serikat.
“Kami tidak akan pernah menyerahkan kedaulatan kami atas Terusan Panama. Itu milik rakyat Panama, dan kami tidak akan tunduk pada ancaman siapa pun,” kata Cortizo dalam konferensi pers.
Di Amerika sendiri, pidato Trump memicu perdebatan panas. Sebagian pendukungnya melihat ini sebagai bukti keberanian dan visi strategis, sementara lawan politiknya menilai ini sebagai kebijakan imperialistik yang tidak realistis.
Kesimpulan
Ambisi Trump untuk merebut Greenland dan Terusan Panama menandakan bahwa ia masih berpegang pada kebijakan luar negeri yang agresif dan berorientasi pada dominasi ekonomi serta militer. Namun, dengan respons keras dari komunitas internasional, tampaknya usulan tersebut tidak akan mudah terwujud tanpa konsekuensi diplomatik yang besar.
Kini, pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah Trump benar-benar serius, atau ini hanya strategi politik menjelang pemilu presiden berikutnya?