Ketegangan di Semenanjung Korea kembali meningkat setelah Korea Utara melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat atas kedatangan kapal induk USS Theodore Roosevelt ke Korea Selatan. Dalam pernyataan resminya, Pyongyang menuding mantan Presiden AS, Donald Trump, sebagai dalang di balik kebijakan agresif yang dapat memicu ketidakstabilan di kawasan.
Kedatangan USS Theodore Roosevelt dan Reaksi Korut
Kapal induk bertenaga nuklir USS Theodore Roosevelt tiba di pelabuhan Busan, Korea Selatan, dalam rangka latihan militer gabungan antara militer AS dan Korea Selatan. Latihan ini diklaim bertujuan untuk meningkatkan kesiapan tempur dalam menghadapi ancaman regional, terutama dari Korea Utara.
Namun, Pyongyang menganggap langkah tersebut sebagai bentuk provokasi yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan. Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, dalam editorialnya menyebut kehadiran kapal induk AS sebagai “tindakan agresi yang tidak bisa diterima” dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut akan disambut dengan “respons tegas dan tanpa kompromi.”
“Kedatangan kapal induk AS di Korea Selatan adalah bukti nyata dari kebijakan militeristik yang terus berlanjut, bahkan setelah perubahan pemerintahan di Washington. Ini adalah manuver berbahaya yang dapat memperburuk situasi di Semenanjung Korea,” tulis KCNA.
Trump Disebut sebagai Pemicu Ketegangan
Meskipun Donald Trump tidak lagi menjabat sebagai presiden, Korea Utara tetap menyalahkan dirinya atas eskalasi militer di kawasan. Pyongyang mengklaim bahwa kebijakan keras Trump terhadap Korea Utara selama masa kepresidenannya telah meninggalkan “warisan permusuhan” yang masih berdampak hingga saat ini.
“Trump dan antek-anteknya telah menciptakan kebijakan yang mengarah pada konfrontasi jangka panjang. Washington masih terjebak dalam logika Perang Dingin yang hanya akan memperburuk ketegangan,” tambah KCNA.
Respons Amerika Serikat dan Korea Selatan
Sementara itu, Departemen Pertahanan AS menegaskan bahwa kedatangan USS Theodore Roosevelt ke Korea Selatan adalah bagian dari komitmen mereka untuk menjaga keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Juru bicara Pentagon menyatakan bahwa kehadiran kapal induk tersebut bukanlah provokasi, melainkan bentuk dukungan terhadap sekutu-sekutu AS di Asia.
“Kami berkomitmen untuk menjaga keamanan di Semenanjung Korea dan bekerja sama dengan mitra kami, Korea Selatan. Latihan militer ini adalah langkah rutin untuk memastikan kesiapan operasional,” ujar perwakilan Pentagon dalam konferensi pers.
Pemerintah Korea Selatan juga menegaskan bahwa latihan gabungan ini adalah langkah strategis untuk mempertahankan pertahanan nasional dari potensi ancaman. “Kami tidak akan terintimidasi oleh retorika Korea Utara. Latihan ini dilakukan demi menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan,” kata seorang pejabat militer Korea Selatan.
Ancaman Korut: Latihan Balasan dan Uji Coba Rudal
Sebagai tanggapan atas kedatangan USS Theodore Roosevelt, Korea Utara dilaporkan telah meningkatkan aktivitas militer di beberapa basisnya. Citra satelit terbaru menunjukkan adanya pergerakan besar-besaran pasukan dan persiapan untuk kemungkinan uji coba rudal balistik.
Analis keamanan memperingatkan bahwa Korea Utara kemungkinan akan melakukan uji coba rudal dalam beberapa hari ke depan sebagai respons terhadap latihan gabungan AS-Korsel. “Jika mereka merasa terancam, mereka tidak akan ragu untuk melakukan uji coba rudal sebagai bentuk unjuk kekuatan,” ujar seorang pakar pertahanan dari Seoul.
Kesimpulan: Eskalasi atau Negosiasi?
Kehadiran kapal induk AS dan respons keras dari Korea Utara kembali menunjukkan betapa rapuhnya situasi di Semenanjung Korea. Dengan meningkatnya ketegangan, banyak pihak khawatir bahwa gesekan ini dapat berujung pada konfrontasi militer yang lebih serius.
Apakah ini hanya retorika belaka atau akan berkembang menjadi eskalasi nyata? Dunia kini menanti langkah berikutnya dari Washington, Seoul, dan Pyongyang.
4o