Semarang, 27 Februari 2025 – Perayaan tradisional Kirab Dugderan di Kota Semarang akan kembali digelar besok, menandai datangnya bulan suci Ramadan. Acara tahunan ini tidak hanya menjadi simbol budaya dan religi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang selalu dinantikan masyarakat.
Pemerintah Kota Semarang telah menyiapkan berbagai rangkaian acara dalam kirab ini, yang akan melibatkan ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat. Prosesi akan dimulai dari Masjid Agung Semarang dan berakhir di Balai Kota Semarang, melewati sejumlah titik penting di sepanjang Jalan Pemuda.
Rekayasa Lalu Lintas dan Penutupan Jalan
Untuk mendukung kelancaran acara, Dinas Perhubungan Kota Semarang akan melakukan rekayasa lalu lintas dengan menutup Jalan Pemuda mulai pukul 12.00 WIB hingga selesai. Pengendara yang biasanya melintasi jalur tersebut disarankan untuk mencari rute alternatif guna menghindari kemacetan.
Kepala Dinas Perhubungan Semarang, Budi Santoso, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengatur lalu lintas selama acara berlangsung. “Kami mengimbau masyarakat agar menghindari kawasan Jalan Pemuda saat acara berlangsung dan menggunakan jalur alternatif yang telah disiapkan,” ujarnya.
Prosesi Kirab dan Makna Dugderan
Kirab Dugderan merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak abad ke-19, ketika Semarang masih di bawah kepemimpinan bupati pertama yang beragama Islam. Tradisi ini ditandai dengan bunyi “dug” dari beduk dan “der” dari meriam, yang melambangkan pengumuman awal Ramadan.
Dalam prosesi kirab, peserta akan mengenakan pakaian tradisional seperti baju koko, sarung, dan peci, serta menampilkan arak-arakan Warak Ngendog, simbol akulturasi budaya yang unik di Semarang. Selain itu, berbagai atraksi seni dan budaya, termasuk drum band, tari-tarian daerah, serta pawai obor, akan turut memeriahkan suasana.
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menegaskan pentingnya menjaga tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya lokal. “Dugderan bukan sekadar seremoni, tetapi juga momentum untuk mempererat kebersamaan dan menjaga nilai-nilai toleransi yang sudah menjadi identitas Kota Semarang,” katanya.
Antusiasme Warga dan Dampak Ekonomi
Kirab Dugderan selalu menarik perhatian ribuan warga, baik dari dalam maupun luar kota. Tak hanya menjadi ajang perayaan, acara ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Banyak pedagang kaki lima dan UMKM yang memanfaatkan momen ini untuk berjualan makanan khas seperti lumpia, wingko babat, dan es gempol pleret.
“Saya sudah menyiapkan stok makanan lebih banyak karena Dugderan selalu ramai. Harapannya, tahun ini bisa lebih meriah dan membawa berkah,” ujar Siti Aminah, salah satu pedagang di sekitar Simpang Lima.
Imbauan bagi Masyarakat
Pemerintah Kota Semarang mengimbau masyarakat yang ingin menyaksikan kirab agar datang lebih awal untuk menghindari kemacetan dan memilih moda transportasi umum jika memungkinkan. Selain itu, bagi yang membawa kendaraan pribadi, diharapkan memarkir kendaraan di tempat yang telah disediakan.
Dengan segala persiapan yang matang, Kirab Dugderan tahun ini diharapkan menjadi salah satu perayaan terbaik yang pernah digelar. Warga Semarang dan wisatawan diundang untuk turut serta merasakan semangat kebersamaan dalam tradisi yang sarat makna ini.