Jakarta, 27 Februari 2025 – Wacana pembentukan Bank Emas di Indonesia kembali mencuat setelah Presiden Terpilih Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menyebutkan bahwa cadangan emas nasional harus dioptimalkan sebagai instrumen strategis untuk menopang stabilitas ekonomi. Gagasan ini dinilai ambisius, bahkan oleh para ekonom, karena menandai pergeseran besar dalam kebijakan moneter dan keuangan nasional.
Namun, seberapa realistis ide ini? Mungkinkah Bank Emas menjadi kunci untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia, atau justru hanya ilusi kebijakan yang sulit diterapkan di dunia nyata?
Bank Emas: Apa dan Bagaimana Konsepnya?
Secara teori, Bank Emas adalah lembaga keuangan yang berbasis pada aset emas sebagai jaminan utama dalam sistem perbankan. Dengan kata lain, mata uang dan instrumen keuangan lain akan didukung oleh cadangan emas fisik, mirip dengan sistem standar emas (gold standard) yang pernah digunakan banyak negara sebelum Perang Dunia II.
Dalam konteks Indonesia, Bank Emas diharapkan:
- Meningkatkan Stabilitas Rupiah – Dengan menjadikan emas sebagai aset dasar, rupiah diharapkan lebih stabil terhadap gejolak nilai tukar.
- Menekan Inflasi – Karena uang yang beredar memiliki dasar cadangan fisik emas, inflasi bisa lebih terkendali.
- Menjadi Alternatif Investasi dan Tabungan – Bank Emas dapat menyediakan layanan tabungan emas, yang lebih tahan terhadap depresiasi dibanding uang fiat.
- Mengoptimalkan Cadangan Sumber Daya Alam – Indonesia memiliki cadangan emas besar, terutama di Papua dan Sumatra. Dengan Bank Emas, pengelolaannya bisa lebih terstruktur.
Namun, teori selalu lebih mudah diucapkan daripada diterapkan. Sejumlah tantangan besar muncul jika Bank Emas benar-benar akan direalisasikan.
Tantangan dan Risiko: Seberapa Realistis Gagasan Ini?
Meski tampak menarik, konsep Bank Emas di Indonesia menghadapi beberapa kendala mendasar:
1. Keterbatasan Cadangan Emas Nasional
Bank Indonesia saat ini memiliki cadangan emas sekitar 80 ton atau setara Rp100 triliun. Dibandingkan negara lain seperti AS (8.133 ton) atau Jerman (3.355 ton), angka ini tergolong kecil. Jika Bank Emas ingin dijadikan pilar utama ekonomi, maka Indonesia harus meningkatkan cadangan emasnya secara signifikan, baik melalui eksplorasi maupun impor.
2. Masalah Likuiditas dan Fleksibilitas Moneter
Sistem berbasis emas secara historis memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, jumlah emas yang tersedia tidak bisa bertambah dengan cepat, sehingga sistem ini cenderung membatasi ekspansi ekonomi.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menyatakan:
“Bank Emas mungkin bisa memberikan stabilitas dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang bisa menghambat fleksibilitas kebijakan moneter. Negara butuh kebebasan untuk mencetak uang dan mengelola suku bunga tanpa harus tergantung pada cadangan emas yang terbatas.”
3. Biaya Operasional dan Keamanan
Menjalankan Bank Emas tidak seperti bank biasa. Penyimpanan emas fisik memerlukan sistem keamanan tingkat tinggi, termasuk pengelolaan brankas, logistik, dan asuransi. Jika tidak dikelola dengan baik, biaya operasionalnya bisa lebih tinggi daripada manfaatnya.
4. Potensi Manipulasi dan Korupsi
Di negara dengan tantangan korupsi seperti Indonesia, pengelolaan emas dalam skala besar bisa rawan disalahgunakan. Tanpa regulasi ketat, ada risiko emas negara dialihkan ke kepentingan pribadi atau dijadikan alat spekulasi pasar.
Ekonom senior Faisal Basri dalam wawancara dengan CNBC Indonesia menilai:
“Kita harus belajar dari kasus tata kelola tambang emas yang masih belum optimal. Jika Bank Emas dikelola tanpa transparansi yang kuat, ini justru bisa menjadi celah baru bagi oligarki untuk menguasai aset negara.”
Pelajaran dari Negara Lain: Apa yang Bisa Kita Adopsi?
Sejumlah negara telah mencoba model serupa dengan berbagai hasil:
✅ Turki – Bank Sentral Turki meningkatkan cadangan emasnya untuk memperkuat lira, tetapi tetap mengombinasikan dengan mata uang fiat.
✅ Swiss – Pernah menggunakan standar emas hingga 1999, tetapi kemudian meninggalkannya karena dianggap membatasi kebijakan moneter.
❌ Venezuela – Mengandalkan emas sebagai cadangan utama, tetapi gagal karena kurangnya kepercayaan pasar dan buruknya tata kelola.
Dari contoh ini, Indonesia perlu mengembangkan model yang lebih fleksibel, bukan sekadar menerapkan konsep Bank Emas secara kaku.
Kesimpulan: Bank Emas, Mimpi atau Realita?
Gagasan Bank Emas yang diusung Prabowo memiliki potensi, tetapi juga berisiko tinggi. Jika ingin sukses, Indonesia harus memastikan beberapa hal:
🔹 Cadangan emas ditingkatkan secara signifikan melalui eksplorasi dan akuisisi.
🔹 Regulasi yang ketat dan transparan agar tidak disalahgunakan oleh oligarki.
🔹 Kombinasi dengan kebijakan ekonomi modern, bukan sebagai satu-satunya solusi.
Jika tidak dirancang dengan matang, Bank Emas justru bisa menjadi beban baru bagi ekonomi nasional. Dengan demikian, tantangan terbesar bukanlah menjadikan emas sebagai tulang punggung ekonomi, melainkan bagaimana membangun sistem yang adaptif, stabil, dan realistis.
Apakah Indonesia siap untuk langkah ini? Ataukah Bank Emas hanya akan menjadi sekadar mimpi ambisius tanpa realisasi konkret?