Pakar Peringatkan Keamanan OTP Kian Rentan, Ini Ancaman dan Solusinya

Jakarta – Sistem keamanan berbasis One-Time Password (OTP) yang selama ini dianggap sebagai lapisan perlindungan tambahan untuk transaksi digital dan verifikasi akun kini semakin rentan terhadap berbagai serangan siber. Para pakar keamanan siber mengungkapkan bahwa metode ini sudah tidak lagi sepenuhnya aman, terutama dengan berkembangnya teknik peretasan yang semakin canggih.

Mengapa OTP Tidak Lagi Aman?

Menurut pakar keamanan siber Pratama Persadha, ada beberapa alasan utama yang membuat sistem OTP kini tidak lagi bisa diandalkan sebagai bentuk keamanan utama, di antaranya:

  1. Serangan SIM Swap
    Serangan ini terjadi ketika pelaku mengambil alih nomor ponsel korban dengan cara mengelabui operator seluler. Setelah berhasil, mereka bisa menerima kode OTP yang dikirim oleh sistem keamanan aplikasi atau layanan perbankan. Kasus SIM swap ini semakin marak terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
  2. Phishing dan Social Engineering
    Banyak pengguna yang tanpa sadar memberikan kode OTP mereka kepada penipu melalui modus penipuan. Teknik ini sering digunakan dalam serangan phishing, di mana korban diarahkan ke situs palsu yang terlihat seperti platform resmi, lalu tanpa sadar memasukkan kode OTP yang dikirimkan ke ponselnya.
  3. Malware dan Keylogger
    Perangkat lunak berbahaya seperti malware dan keylogger bisa dipasang di perangkat korban melalui tautan berbahaya atau aplikasi tidak resmi. Setelah terinstal, malware ini dapat mencuri OTP secara otomatis tanpa sepengetahuan pengguna.
  4. Intercepting SMS OTP
    Dalam beberapa kasus, peretas menggunakan teknik Man-in-the-Middle (MitM) atau mengeksploitasi kelemahan dalam jaringan telekomunikasi untuk mencegat OTP yang dikirimkan melalui SMS.

Ancaman bagi Perbankan dan Keuangan Digital

OTP sering digunakan dalam transaksi perbankan online dan platform keuangan digital sebagai metode autentikasi dua faktor (2FA). Namun, dengan meningkatnya ancaman siber, sistem ini mulai dianggap tidak cukup aman.

Menurut laporan dari Cybersecurity & Infrastructure Security Agency (CISA), serangan terhadap OTP berbasis SMS meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa bank dan penyedia layanan keuangan mulai beralih ke metode autentikasi yang lebih aman, seperti biometrik (sidik jari atau pengenalan wajah) dan token fisik untuk meningkatkan perlindungan.

Solusi dan Langkah Pencegahan

Untuk mengatasi masalah ini, pakar menyarankan beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh pengguna maupun penyedia layanan digital:

  1. Menggunakan Aplikasi Authenticator
    Beralih dari OTP berbasis SMS ke aplikasi autentikasi seperti Google Authenticator atau Microsoft Authenticator, yang lebih sulit untuk diretas karena kode yang dihasilkan hanya tersimpan di perangkat pengguna.
  2. Mengaktifkan Keamanan Berlapis
    Selain OTP, gunakan fitur keamanan tambahan seperti biometrik, PIN yang kuat, atau token fisik untuk melindungi akun dari akses yang tidak sah.
  3. Waspada terhadap Phishing
    Jangan pernah memberikan kode OTP kepada siapa pun, terutama jika diminta melalui pesan teks atau telepon. Perusahaan resmi tidak akan pernah meminta OTP secara langsung.
  4. Hindari Jaringan WiFi Publik
    Menggunakan WiFi publik tanpa proteksi dapat meningkatkan risiko serangan Man-in-the-Middle, di mana peretas bisa mencuri informasi yang dikirimkan melalui jaringan yang tidak aman.
  5. Aktifkan Fitur Peringatan Aktivitas Mencurigakan
    Beberapa aplikasi dan layanan keuangan memiliki fitur peringatan jika ada aktivitas mencurigakan di akun pengguna. Pastikan fitur ini aktif agar segera mendapat notifikasi jika ada upaya login yang mencurigakan.

Kesimpulan: OTP Masih Bisa Digunakan, Tapi Perlu Pendampingan Sistem Keamanan

Meskipun OTP masih digunakan secara luas, keamanannya kini mulai dipertanyakan. Para pakar menegaskan bahwa OTP berbasis SMS tidak lagi cukup untuk menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks. Pengguna diimbau untuk meningkatkan kesadaran akan keamanan digital dan mulai beralih ke metode autentikasi yang lebih aman.

Penyedia layanan keuangan dan teknologi juga didorong untuk mengembangkan solusi yang lebih canggih, seperti autentikasi berbasis biometrik, enkripsi end-to-end, dan sistem deteksi anomali berbasis AI, agar keamanan data dan transaksi digital tetap terjaga.

Di era digital yang semakin maju, keamanan siber bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. 🚨